Udah banyak sekali lowongan pekerjaan yang kulayangkan… Hanya demi keinginan, menyusul kakanda ke KL (uhuk uhuk hem hem, ini bukan karena radang loh
).
Belum rejeki kali yah sehingga kita belum bersama. Keinget, inget masa-masa dulu, pas kantornya deket, tiap hari pulang bareng, maem bareng, maen bareng.
Kukira setelah aa pulang dari Taiwan aku akan terbebas dari LDR, tapi ternyata kali ini lebih lama, sudah lebih dari satu tahun.
Saat ini gonjang ganjing di hatiku (kayak wayang ajah), menanyai diriku sendiri, bagaimana bisa aku “stuck” dalam kondisi ini? Kondisi yang rentan sekali bagiku untuk kufur nikmat. Bahaya.
Dan sampai kapan?
Kemudian tadi aku membaca web pribadi Cahyadi Takariawan tentang pentingnya kuantitas pertemuan, dan tentang teknologi yang tidak akan bisa menyainginya. Dan tiba-tiba saja air mata ini mengalir, karena itu semua adalah ungkapan isi hatiku.
YM, Skype, telepon, tidak akan bisa mengalahkan pertemuan.
Mencoba untuk bangkit, pura-pura lupa, pura-pura gak butuh, pura-pura tegar gitu deh pokoknya. Tapi pas malem-malem gini nangis huhuhuhu (dasar cengeng).
So.. Alhamdulillah saja lah yang kulantunkan, dan juga doa serta harapan…
Allah tidak akan mendzolimi hamba Nya. Beratus-ratus lamaran itu pasti dilihat sama Allah. Juga berkali-kali interview itu. Juga bertetes-tetes air mata itu. Semuanya disaksikan oleh Allah.
Seyogyanya manusia beriman berkata : Hasbunallahu wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’mannashiiir…
Harus aku cukup-cukupkan kesabaran ini. Tetap sabar, tetap ikhtiar.
Aku yakin sekali, insya Allah, yang terbaik akan datang, untukku… Karena aku telah berusaha sebaik-baiknya.
Man jadda wa jadda, seperti kutipan di negeri lima menara.
Siapa yang bersungguh-sungguh, akan mendapatkan…..
Aku, orang yang bersungguh-sungguh, aku…. insya Allah akan mendapatkan yang aku perjuangkan. (dan Allah pasti akan membantu orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya).
