LDR alias Long Distance Relationship

Hmm, it is hard to say, but…

Yap, saya sedang dalam kondisi LDR lebih tepatnya LDM (Long Distance Marriage) dengan suami saya.

Sebelumnya saya berpikir untuk bilang “LDR’s suck”. Tetapi, walapun 1000 kali saya berkata seperti itu, saya tahu itu tidak akan merubah keadaan. Saya tetap LDR dan jauh-jauhan sama suami saya.

Hmm… Mari kita menggali lebih dalam tentang suka dan dukanya.

Suka :

Bebas hang out ma temen.

Duka :

Ga bisa hangout sering ma suami.

Suka :

Bebas.

Duka :

Dalam kebebasan itu rindu suami. :”>

Suka :

Gak usah masakin (hehehehe).

Duka :

Mikirin dia makan apa (cucuit).

Aiiiihhhhhhh hahaahahaha.

Intinya mau bilang kalo misalnya bisa dan memungkinkan, saya lebih suka tidak LDR. Perasaan lebih tenang dan damai dengan adanya suami. Juga rasanya lebih terjaga dan terhormat, tidak berkeliaran sendiri kayak masih single.

Tapi tapi, namanya keadaan.

Kita dalam posisi yang sama2 sulit untuk melepaskan pekerjaan karena adanya cita-cita dan tanggung jawab. Di saat-saat itulah menurut saya pentingnya berdoa. Berdoa agar bisa bersama. Bedoa agar suami bisa mendapat perkerjaan yang layak di Indonesia. Atau berdoa agar saya bisa mendapatkan perkerjaan di KL.

Kemudian, jangan lupakan niat.

Saya tidak setuju dengan kalimat, “kita lihat saja nanti apa yang terjadi”.

Menurut saya semuanya harus diniatkan. Niatkan untuk bersama. Berusaha dengan semampu jiwa untuk bisa bersama kembali.

NIAT yang kuat, Ikhtiar yang kuat, Tawakal yang kuat.

We believe if we persist, Allah will help us.

Nah setelah itu, jangan lupa untuk bahagia. Karena bahagia adalah tanggung jawab kita. Ada sisi positif dari setiap kejadian.

I will be happy in this LDR history, insya Allah ;)

Advertisement

2 comments to LDR alias Long Distance Relationship

  1. ardnas20 says:

    LDR?
    I think you should name it LDM for Long Distance Mariage instead of LDR. huehehhee

    “NIAT yang kuat, Ikhtiar yang kuat, Tawakal yang kuat.

    We believe if we persist, Allah will help us.

    Nah setelah itu, jangan lupa untuk bahagia. Karena bahagia adalah tanggung jawab kita. Ada sisi positif dari setiap kejadian.”

    *jempol*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s